HALAMAN MASPUR™

9 June, 2007

Amsal Jemari

Filed under: Islamic, Kolom, Renungan, Serba-serbi — sugeng purwanto @ 3:15 pm

Author : Agusty Anwar

Kedua tangan yang kita miliki masing-masing memiliki lima jari. Namun, dari kesepuluh jari yang ada, cukup banyak simbol yang dapat dihasilkan, bahkan amsal yang dapat dijadikan perbandingan.


KH Toto Tasmara dalam ceramah Pesantren Kilat (yang diberikannya di Los Angeles) menyusun kedua tangan berdempetan dengan melipatkan jari tengah. Lalu digerak-gerakkanlah kedua ibu jari saling beradu sedangkan pasangan jari-jari lain diam di tempat; lalu giliran jari telunjuk; kemudian kelingking. Semua mudah dilakukan. Namun, ketika yang digerak-gerakkan pasangan jari manis, ternyata tidak mudah atau bahkan tidak bisa.

Ustadz kita itu memang pembicara yang handal dan lihat meng-entertaint audience-nya. Dengan amsal jemari demikian itu saja, ia mengajak kita berfikir betapa bagian tubuh seperti jari-jari kita sendiri pun belum tentu dapat kita kontrol sesuka hati. Silahkan anda coba!

Demikian banyak keterbatasan yang kita miliki, bahkan hanya dalam soal jari. “Apakah kita patut menjadi sombong?” demikian Ustadz Toto bertanya dengan nada retoris. Dan guru kita itu benar, bahwa apa pun itu, tak akan pernah cukup alasan bagi seorang manusia untuk bersikap sombong. Apalagi takabur di depan Tuhan.

Faktanya, hanya dengan jari jemari saja pun pelajaran hidup dapat diambil berlimpah-limpah. Jari tangan kita adalah bagian tubuh kita yang berfungsi paling dinamis, yang mempunyai paling banyak sendi sehingga lebih lentur dan membuahkan hidup yang menjadi lebih mudah. Tak terhitung jumlahnya jenis pekerjaan yang mengandalkan keberadaan jari tangan itu.

Ketika kolom ini diketik, ketika anak dibelai, kerabat bersalaman, berhitung, menggaruk yang gatal, memijat, memegang atau menggenggam sesuatu, memainkan gitar atau piano, memetik buah, bahkan ketika menarik pelatuk pistol atau menandatangani cek palsu. Jari-jari tangan kita hadir menjalankan tindak yang otak kita inginkan, tak kenal baik atau buruk.

Lebih hebat lagi, jari-jari kita pun amat kaya dengan beragam bentukan simbol. Jari-jari pun merupakan komponen paling kaya dari beragam bahasa tubuh.

Memang, karena perbedaan-perbedaan kultural, satu simbol dapat bermakna bagi suatu bangsa, sedangkan bagi yang lain tidak. Namun, sangat banyak pula simbol-simbol itu yang dipahami di mana dan oleh siapa pun. Bagi kalangan tuna rungu dan tuna wicara, bahasa tangan dan jemari atau sign language sama kayanya dengan kamus tebal yang memuat jutaan kata. Dari berbagai lipatan jari, kesemua abjad dapat dibentuk.

Itulah sebabnya, dalam hidup sehari-hari, ketika jari telunjuk kita gerakkan, ia menyampaikan banyak makna: Ia dapat berarti menyetop taksi di pinggir jalan, memberikan perintah, sekedar menunjuk arah, acungan untuk bertanya dan sebagainya. Jari telunjuk yang dituding-tudingkan pun dapat membawa arti yang kasar, ketika yang punya jari kebetulan memang sedang marah.

Lalu, dalam beragam budaya dunia, kita pun maklum tentang jari jempol yang diacungkan ke atas; makna simbolik jari telunjuk dan jari tengah yang direnggangkan—entah itu victory atau peace; makna vulgar acungan jari tengah atau kelingking dan sebagainya. Di RRC, setelah angka lima, terdapat simbol-simbol jemari lainnya yang menyatakan angka enam sampai sepuluh, yang hanya lazim di sana. Ketika di Shanghai jari tangan menunjukkan angka delapan, di Barat barangkali dimaknai sebagai simbol pistol atau sekedar tanda keakraban.

Ketika jari tengah, jari manis dan ibu jari menekuk dan membiarkan dua jari lainnya berdiri dapat dimaknai sebagai simbol setan, atau corna di Itali; tetapi di Texas itu menjadi tanda salam kalangan mahasiswa, “hook ‘em horns”, kata mereka. Atau, tepatnya, kata Harley Clark yang mempopulerkan simbol itu di tahun 1955. Sedangkan di Hawaii, ketika ketiga jari ditengah yang ditekuk dengan menyisakan ibu jari dan kelingking, ia menjadi shaka, atau lebih populer disebut hang loose, yang menjadi tanda salam yang beragam makna.

Pendeknya, hanya dari jari-jemari kita itu pun tersangat banyak hal yang dapat disimbolkan, bahkan dimaknai. Ketika di masa kecil kita mengibaratkan ibu jari sebagai gajah, telunjuk sebagai manusia dan kelingking semut, maka terjadilah sebuah permainan.

Sedangkan yang sebagai amsal, yang dapat menjadi pelajaran dalam hidup pun teramat banyak. Sebagai misal, ketika ada yang asyik menunjuk-nunjuk dan menuding-nuding, menyalah-nyalahkan orang lain, sebetulnya hanya satu yang tertuju kepada yang dituding, sedangkan tiga (kalau bukan empat) jari lainnya justru mengarah kepada diri sendiri. Oleh sebab itu, kata orang bijak, janganlah cepat melihat keburukan orang lain tanpa terlebih dahulu melakukan introspeksi diri sendiri.

Namun, sebuah amsal jemari yang sering terlintas di benak saya adalah tentang filosofi hubungan kelingking dan ibu jari, seperti dicatatkan seorang teman, Adi J. Mustafa, dalam mengenang Alm. Prof Dr. Koesnadi Hardjosumantri. Seorang wakil UNESCO, demikian kisah Pak Koesnadi, bertanya kepada seorang Kepala Desa tentang rahasia sukses dalam memimpin desanya.

Ternyata, jawaban sang Kades sederhana saja, bahwa ia menerapkan “falsafah jari tangan”. Rakyat, menurut Pak Kades, ibarat jari kelingking, sedangkan pemimpin adalah ibu jari. Bagi kelingking tidak akan mudah menjangkau ibu jari apabila si ibu jari tak mau atau enggan menekuk. Sedangkan menjangkau kelingking bagi ibu jari akan jauh lebih leluasa, walau pun kelingkingnya tetap diam.

Makna dari amsal itu ternyata tidak lagi sesederhana penuturan seorang Kepala Desa, karena ternyata dapat menjadi sangat dalam: Bahwa sudah sepatutnyalah bagi pemimpin untuk memperhatikan rakyatnya, karena akan lebih mudah baginya melakukan itu daripada sebaliknya. Bayangkan kalau antara pemimpin dan rakyat sebagai ibu jari dan kelingking saling menekuk bersambut ke tengah, bukankah semuanya akan menjadi lebih mudah?

Betapa hidup ini teramat kaya, bahkan untuk memetik arti dari sekedar amsal jari jemari.

source : penulislepas.com

7 June, 2007

Dunia penuh dengan keanehan / Keajaiban (kumpulan dari youtube)

Filed under: Download, Islamic, Renungan, Serba-serbi, indonesiana, video — sugeng purwanto @ 4:49 pm

Kejadian Aneh   (Download Movie)

Sajadah bisa Sholat   (Download Movie)

Singa Mengaum Nama Allah  (Download Movie)

Ikan Berkepala Buaya   (Download Movie)

Anak Durhaka  (Download Movie)

Kena Sumpah  (Download Movie)

Anak Durhaka jadi Ikan pari   (Download Movie

Keajaiban Tuhan (Download Movie

Keajaiban Tuhan Lewat Tulisan ”Allah (SWT)”  (Download Movie)

….. Setelah Melihat ini semua,.. hanya bisa menyebut Kebesaran Allah,
dari sisi mana kita melihatnya, semua pasti ada hikmahnya.

6 June, 2007

Cara Mengajar yang Terbaik

Filed under: Islamic, Renungan, Serba-serbi, Story, indonesiana — sugeng purwanto @ 2:07 am

Hiduplah seorang guru yang bijaksana, guru tersebut memiliki beberapa orang murid, salah satu di antara muridnya ada yang gagu. Suatu hari sang guru menyuruh muridnya yang gagu untuk turun gunung.Sang guru berkata, “Besok, turun gununglah dan sebarkanlah ajaran Kebenaran yang telah kubabarkan kepada semua orang.”Muridnya yang gagu itu merasa rendah diri dan segera menulis di atas kertas, “Maafkan saya Guru, bagaimana mungkin saya dapat menyebarkan ajaran Guru, saya ini kan gagu. Mengapa Guru tidak menyuruh murid lain saja yang tentu mampu membabarkan ajaran Guru dengan lebih baik?”

Sang Guru tersenyum dan meminta muridnya merasakan sebiji anggur yang diberikan olehnya. “Anggur ini manis sekali,” tulis muridnya.

Sang Guru kembali memberikan sebiji anggur yang lain. “Anggur ini masam sekali,” tulis muridnya.

Kemudian Gurunya melakukan hal yang sama pada seekor burung beo. Biarpun diberi anggur yang manis maupun masam beo itu tetap saja mengoceh, “Masam… masam…”

Sang Guru menjelaskan pada muridnya,

“Kebenaran bukanlah untuk dihafal, bukan pula cuma untuk dipelajari, tapi yang terutama adalah untuk dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Cacat tubuh yang kita miliki janganlah menjadi rintangan dalam mengembangkan batin kita. Kita jangan seperti sebuah sendok yang penuh dengan madu, tapi tidak pernah mengetahui manisnya madu itu. Kita jangan seperti beo yang pintar mengoceh, tapi tidak mengerti apa yang diocehkannya.

Engkau memang tidak mampu berbicara dengan baik, tapi bukankah engkau bisa menyebarkan Kebenaran dengan cara-cara lain, misalnya menulis buku? Dan yang lebih penting, bukankah perilaku kamu yang sesuai dengan Kebenaran akan menjadi panutan bagi yang lain?”

Itulah cara mengajar yang terbaik: teladankan Kebenaran dalam perilakumu, bukan cuma dalam omonganmu…

5 June, 2007

Berpikir Positif (seperti dalam cerita Pygmalion)

Filed under: Renungan, Serba-serbi, Story, indonesiana — sugeng purwanto @ 9:14 pm

Hukum Pygmalion – Hukum Berpikir Positif

Pygmalion adalah seorang pemuda yang berbakat seni memahat. Ia sungguh piawai dalam memahat patung. Karya ukiran tangannya sungguh bagus.Tetapi bukan kecakapannya itu menjadikan ia dikenal dan disenangi teman dan tetangganya. Pygmalion dikenal sebagai orang yang suka berpikiran positif. Ia memandang segala sesuatu dari sudut yang baik.* Apabila lapangan di tengah kota becek, orang-orang mengomel.Tetapi Pygmalion berkata, “Untunglah, lapangan yang lain tidak sebecek ini.”

* Ketika ada seorang pembeli patung ngotot menawar-nawar harga, kawan-kawan Pygmalion berbisik, “Kikir betul orang itu.” Tetapi Pygmalion berkata, “Mungkin orang itu perlu mengeluarkan uang untuk urusan lain yang lebih perlu”.

* Ketika anak-anak mencuri apel dikebunnya, Pygmalion tidak mengumpat. Ia malah merasa iba, “Kasihan,anak-anak itu kurang mendapat pendidikan dan makanan yang cukup di rumahnya.

“Itulah pola pandang Pygmalion. Ia tidak melihat suatu keadaan dari segi buruk, melainkan justru dari segi baik. Ia tidak pernah berpikir buruk tentang orang lain; sebaliknya, ia mencoba membayangkan hal-hal baik dibalik perbuatan buruk orang lain.Pada suatu hari Pygmalion mengukir sebuah patung wanita dari kayu yang sangat halus. Patung itu berukuran manusia sungguhan. Ketika sudah rampung, patung itu tampak seperti manusia betul. Wajah patung itu tersenyum manis menawan, tubuhnya elok menarik. Kawan-kawan Pygmalion berkata, “Ah,sebagus-bagusnya patung , itu cuma patung, bukan isterimu.” Tetapi Pygmalion memperlakukan patung itu sebagai manusia betul. Berkali-kali patung itu ditatapnya dan dielusnya. Para dewa yang ada di Gunung Olympus memperhatikan dan menghargai sikap Pygmalion, lalu mereka memutuskan untuk memberi anugerah kepada Pygmalion, yaitu mengubah patung itu menjadi manusia betul. Begitulah, Pygmalion hidup berbahagia dengan isterinya itu yang konon adalah wanita tercantik di seluruh negeri Yunani.

Nama Pygmalion dikenang hingga kini untuk mengambarkan dampak pola berpikir yang positif. Kalau kita berpikir positif tentang suatu keadaan atau seseorang, seringkali hasilnya betul-betul menjadi positif. Misalnya,* Jika kita bersikap ramah terhadap seseorang, maka orang itupun akan menjadi ramah terhadap kita.

* Jika kita memperlakukan anak kita sebagai anak yang cerdas, akhirnya dia betul-betul menjadi cerdas.

* Jika kita yakin bahwa upaya kita akan berhasil, besar sekali kemungkinan upaya dapat merupakan separuh keberhasilan. Dampak pola berpikir positif itu disebut dampak Pygmalion.

Pikiran kita memang seringkali mempunyai dampak fulfilling prophecy atau ramalan tergenapi, baik positif maupun negatif. Kalau kita menganggap tetangga kita judes sehingga kita tidak mau bergaul dengan dia, maka akhirnya dia betul-betul menjadi judes.

* Kalau kita mencurigai dan menganggap anak kita tidak jujur, akhirnya ia betul-betul menjadi tidak jujur.

* Kalau kita sudah putus asa dan merasa tidak sanggup pada awal suatu usaha, besar sekali kemungkinannya kita betul-betul akan gagal.

Pola pikir Pygmalion adalah berpikir, menduga dan berharap hanya yang baik tentang suatu keadaan atau seseorang. Bayangkan, bagaimana besar dampaknya bila kita berpola pikir positif seperti itu. Kita tidak akan berprasangka buruk tentang orang lain. Kita tidak menggunjingkan desas-desus yang jelek tentang orang lain. Kita tidak menduga-duga yang jahat tentang orang lain. Kalau kita berpikir buruk tentang orang lain, selalu ada saja bahan untuk menduga hal-hal yang buruk. Jika ada seorang kawan memberi hadiah kepada kita, jelas itu adalah perbuatan baik. Tetapi jika kita berpikir buruk,kita akan menjadi curiga, “Barangkali ia sedang mencoba membujuk,” atau kita mengomel, “Ah, hadiahnya cuma barang murah.”

Yang rugi dari pola pikir seperti itu adalah diri kita sendiri. Kita menjadi mudah curiga. Kita menjadi tidak bahagia. Sebaliknya, kalau kita berpikir positif, kita akan menikmati hadiah itu dengan rasa gembira dan syukur, “Ia begitu murah hati. Walaupun ia sibuk, ia ingat untuk memberi kepada kita.” Warna hidup memang tergantung dari warna kaca mata yang kita pakai.

* Kalau kita memakai kaca mata kelabu, segala sesuatu akan tampak kelabu. Hidup menjadi kelabu dan suram. Tetapi kalau kita memakai kaca mata yang terang, segala sesuatu akan tampak cerah. Kaca mata yang berprasangka atau benci akan menjadikan hidup kita penuh rasa curiga dan dendam.Tetapi kaca mata yang damai akan menjadikan hidup kita damai.

Hidup akan menjadi baik kalau kita memandangnya dari segi yang baik. Berpikir baik tentang diri sendiri. Berpikir baik tentang orang lain. Berpikir baik tentang keadaan. Berpikir baik tentang Tuhan. Dampak berpikir baik seperti itu akan kita rasakan. Keluarga menjadi hangat. Kawan menjadi bisa dipercaya. Tetangga menjadi akrab. Pekerjaan menjadi menyenangkan. Dunia menjadi ramah. Hidup menjadi indah. Seperti Pygmalion, begitulah.

-via archive wintersat

Sebuah Cerita (untuk bekal mendidik anak)

Filed under: Islamic, Renungan, Serba-serbi, Story, indonesiana — sugeng purwanto @ 10:55 am

Pada suatu ketika dikisahkan ada seorang tua renta yang tinggal dengan anak dan menantunya yang sudah berputra 6 tahun.
Sang kakek sudah mengalami kesulitan saat berjalan ataupun menggerakkan tangannya karena stroke yang pernah diderita sebelumnya.

Seperti biasa saat makan malam seluruh keluarga berkumpul dimeja makan diruang tengah. seperti biasa pula karena ketidak seimbangan tangannya ada saja alat makan yang terjatuh, sup atau air tumpah dan membasahi taplak meja makan.
melihat itu semua gusarlah pasangan suami istri tsb. “… kalau begini terus, hilang selera makanku.!!! ” begitu keluh sang menantu.
akhirnya dengan kesepakatan bersama suami istri tsb membuat meja kecil lalu diletakkan disudut ruangan, tidak lupa pula mereka membeli peralatan makan dari plastik untuk sang kakek.

Sejak itu anak dan menantunya dapat menikmati makan malam tanpa merasa terganggu ulah sang kakek. sementara dari sudut ruangan kerap terdengar isak tangis sedih sang kakek yang makan sendirian dimeja kecilnya. tak jarang bubur yang berhasil masuk kemulutnya sudah bercampur tetesan air matanya. tak jarang sang kakek tidak makan karena sup atau buburnya tumpah ke lantai.hal itu makin membuat anak dan menantunya geram dan mengomel pada sang
kakek. melihat itu semua sang cucu yang baru berusia 6 tahun itu hanya diam dan tak satu patah kata pun terlontar dari bibirnya yang mungil.

Suatu malam sebelum tidur, seperti biasa pasangan suami istri tsb masuk ke kamar anaknya untuk mengucapkan selamat tidur. tapi malam itu putranya masik
terlihat asyik dengan mainan kayunya.
sang ayah bertanya : ” Apa yang sedang kau buat nak…sampai kau belum tidur juga ? “
dengan penuh semangat sang putra menjawab : ” aku sedang membuat meja makan untuk ayah dan ibu kalau aku sudah besar nanti ….dan akan kuletakkan disudut ruangan tempat kakek makan ” bagus kan yah…?.
mendengar jawaban putranya suami istri tsb merasa amat sedih dan terpukul.
malam itu mereka sadar harus ada yang dibenahi.

Sejak malam itu suasana diruang makan kembali seperti semula, semua berkumpul dalam satu meja makan, bedanya tak ada lagi terdengar suara omelan meski selalu ada saja alat makan yang jatuh atau sup tumpah mengotori taplak meja. tidak ada lagi meja kecil disudut ruangan dengan suara isak tangis sang kakek yang membuat sang cucu berhenti makan.

Temans……
Anak2 adalah persepsi kita, mata mereka akan selalu mengamati,
Telinga mereka akan selalu menyimak dan fikiran mereka akan selalu mencerna setiap hal yang kita lakukan.
Mereka adalah peniru ulung.
Orang tua yang bijak akan selalu menyadari setiap ” Bangunan Jiwa “yang disusun adalah pondasi yang kekal untuk masa depan anak-anak.

Untuk merekalah kita akan selalu belajar, bahwa berbuat baik pada orang lain sama artinya dengan tabungan masa depan.

semoga dapat diambil hikmahnya ..

4 June, 2007

Insiden Pemutaran Film Tentang Pemanasan Global (WWF-Indonesia dan TB Aksara)

Filed under: Berita, Renungan, Serba-serbi, indonesiana — sugeng purwanto @ 2:54 pm


Ketika melakukan sebuah presentasi kepada publik, kesiapan mengenai materi presentasi merupakan faktor yang sangat penting. Hal ini tentu saja menunjang kelancaran dalam prose penyampaian presentasi. Nah, ada sebuah kejadian yang kurang mengenakkan ketika WWF-Indonesia bekerja sama dengan Toko Buku Aksara melangsungkan sebuah workshop tentang lingkungan hidup pada tanggal 29 April 2007 yang lalu.

Mengenai insiden yang terjadi pada acara tersebut, silakan membaca tulisan Firman Firdaus yang mengangkat mengenai surat yang dikirimkan oleh Bapak D. Editjahyono, yang sedianya akan dimuat di surat pembaca Majalah Femina.

Berikut adalah petikan isi surat tersebut:

Saat Hari H, kami sekeluarga lengkap pergi ke acara tersebut dengan harapan selain memperoleh pengetahuan sekaligus hiburan positif bagi keluarga kami. Tetapi justru di sini awal bencana terjadi. Dari awal terlihat ketidaksiapan kerja panitia, acara mulur, komputer serta LCD/layar lebar tidak berfungsi Dan lain-lain. Sehingga di tengah acara saat pergantian VCD penyuluhan, dimana terdapat beberapa orang dari WWF lengkap dengan seragam, petugas TB Aksara melakukan kesalahan fatal yang sangat tidak perlu terjadi apabila telah dipersiapkan sebelumnya, yaitu: memutar video porno rated XXX (maaf tidak dapat kami ceritakan di sini) yang filenya kebetulan berada di dalam komputer dan salah klik oleh petugas. (Selengkapnya)

Saya pribadi tidak membayangkan bahwa hal seperti ini terjadi untuk sebuah event yang diselenggarakan oleh sebuah institusi sekelas WWF-Indonesia dan Toko Buku Aksara. Saya pribadi belum tahu banyak mengenai Toko Buku Aksara. Tapi setelah membaca informasi melalui hasil pencarian tentang Toko Buku Aksara melalui mesin pencari, saya melihat bahwa Toko Buku Aksara merupakan toko buku yang cukup besar.

Masih melalui informasi dari Firman Firdaus, WWF Indonesia mengeluarkan sebuah surat resmi mengenai “Permohonan Maaf Dan Penjelasan Terhadap Kejadian Pemutaran Film di Aksara pada 29 April 2007″. Yang menarik adalah justru surat ini dipublikasikan di situs Aku Sayang (sebuah situs rekanan WWF-Indonesia), bukan di situs resmi WWF-Indonesia sendiri. Jika Anda tertarik untuk membaca surat tersebut, silakan merujuk ke berkas surat tersebut (taut ke berkas PDF, 84 Kb).

Dalam surat tersebut, pihak WWF Indonesia melalui Mubariq Ahmad (Direktur Eksekutif), memberikan informasi kronologis insiden yang terjadi, sebagai berikut:

  • Peralatan yang kami siapkan berupa DVD player mengalami gangguan teknis pada saat sesi pemutaran film, walaupun saat diuji coba pada pukul 13:00 WIB (sebelum acara dimulai) tidak ada masalah.
  • Ketika terjadi gangguan teknis pada DVD Player ketika pemutaran film akan dimulai, tim kami dan Aksara mencari alternatif alat yang dapat digunakan. Dalam kesempitan ini, tim memporeh pinjaman laptop komputer milik pribadi seseorang yang kemudian digunakan sebagai media pemutar film.
  • Pada saat pemutaran film pertama (tema: hutan) tidak terjadi masalah dan pemutaran film berlangsung dengan lancar selama kurang lebih 15 menit.
  • Kecelakaan terjadi pada saat pemutaran film kedua ketika program media player yang ada di laptop secara otomatis menayangkan file yang tidak dimaksudkan untuk diputar (film yang akan diputar bertema “Pemanasan Global” berada didalam DVD disk).
  • Tim WWF sangat terkejut dengan tayangan tersebut dan langsung mematikan proyektor.

Terlepas dari itu semua, insiden tersebut sudah terjadi. Namun kejadian tersebut sangat mungkin untuk membawa pengaruh (secara psikologis) kepada peserta (atau siapapun yang berada/mengalami kejadian tersebut) terutama kepada anak-anak. Seperti yang disampaikan oleh Bapak Edi: “Saat kami pancing anak kami menceritakan pendapat tentang acara WWF Dan TB Aksara, anak kami yang kecil cuma berkomentar bahwa Ada seorang perempuan tanpa busana yang (maaf) mukanya penuh ingus.”

Semoga hal ini dapat memberikan pelajaran untuk kita semua…

sumber : oraclescale.net

-via oraclescale.net 

10 Gejala Kecanduan Internet

Filed under: Internet, Renungan, Serba-serbi, indonesiana — sugeng purwanto @ 1:25 am

oleh : Wicaksono Hidayat & Dewi Widya Ningrum

Kecanduan internet disebut sebagai Internet Addiction Disorder atau yang di singkat (IAD). Beberapa tanda – tanda umum IAD di sebutkan oleh Stephen Juan, Ph.D. seorang antrapolog di University of Sydney.

Berikut ini gejala – gejalanya:

1. Selalu ingin menghabiskan lebih banyak waktu di internet.

2. Jika tidak menggunakan internet, muncul gejala-gejala penarikan diri seperti kecemasan, gelisah, mudah tersinggung, bergetar, menggigil, gerakan mengetik tanpa sadar, obsesif, hingga berkhayal atau bermimpi mengenai Internet.

3. Jika terhubung dengan internet, gejala-gejala penarikan diri tersebut akan hilang ataupun berkurang.

4. Mengakses internet lebih lama dari yang di niatkan.

5. Cukup banyak porsi kegiatan yang digunakan untuk aktivitas terkait internet, termasuk e-mail, browsing, dan chatting.

6. Mengurangi kegiatan penting, baik dalam pekerjaan, sosial atau rekreasi, demi menggunakan internet.

7. Hubungan sosial, pekerjaan, atau pendidikan terancam terganggu karena penggunaan internet yang berlebihan.

8. Internet digunakan untuk melarikan diri dari perasaan bersalah, tak berdaya, kecemasan, atau depresi.

9. Menyembunyikan penggunaan internet dari keluarga atau teman.

-via sugoistanley

Foto Digital langsung Jadi

Filed under: Renungan, Serba-serbi, indonesiana — sugeng purwanto @ 12:34 am

membaca sebuah blog dari photojournalist.wordpress.com tentang sebuah perjalanan hidup seorang juru photo keliling Pak Yahyo (47) sesuai kutipan dari sumber aslinya :

Kalimat di judul cerita ini adalah tawaran Pak Yahyo (47) kepada pengunjung Candi Penataran, Blitar-Jawa Timur. Pak Yahyo memotret sejak tahun 1979. Pada masa itu tentu ia masih menggunakan kamera analog.

Di tengah arus digitalisasi yang masuk ke ranah fotografi, kecintaan terhadap profesi dan demi mempertahankan hidup membuat Pak Yahyo harus menyesuaikan diri dengan tuntutan jaman. Pada tahun 2002 iapun mengganti kamera polaroid dengan kamera saku digital lengkap dengan sebuah printer digital. Hingga kini ayah enam anak ini masih menekuni profesinya menjadi tukang foto “siap saji” di kompleks Candi Penataran.



Sepintas kotak kayu berisi printer digital terkesan seperti kotak ular. Catu daya listrik
untuk printer dan charger baterai kamera itarik dengan seutas kabel yang disambung
dari rumah warga di sekitar candi.


Jika sedang ramai, Pak Yahyo bisa mengantongi Rp. 50.000.- setiap hari. Tapi tidak jarang ia pulang tanpa hasil. Iapun mengakui bahwa semakin banyaknya telepon selular yang dilengkapi dengan kamera dan kamera saku digital mempengaruhi pendapatannya. Namun tak jarang pula sekelompok orang atau keluarga yang lebih puas jika memperoleh dokumentasi dari hasil jasa Pak Yahyo. (Teks & foto : Lendy Widayana)

Bencana Porong .. Sebuah Tragedi Kemanusiaan ..

Filed under: Renungan, Serba-serbi, indonesiana — sugeng purwanto @ 12:17 am

Terlepas dari sebab bencana alam atau kesalahan manusia. Tragedi lumpur Porong adalah sebuah tragedi kemanusiaan. Betapa tidak, ribuan orang kehilangan tempat tinggal, sekolah, mata pencaharian dan lingkungan sosial yang telah mengakar sebelumnya.

Dari balik lensanya, fotografer Peter Wang dari IndonesiaDiscovery merekam akibat luas semburan lumpur panas sebuah megaproyek yang masih menjadi tanda tanya besar, untuk siapakah sebenarnya semua ini ? Untuk rakyatkah atau hanya segelintir orang dalam lingkar kekuasaan ?

Suasana di seputar luapan lumpur 14 Oktober 2006 sebelum terjadinya ledakan pipa gas Pertamina di KM 38,400 tgl 22 Nopember 2006
Pusat Semburan
Pusat Semburan


Lokasi sebelum terjadi ledakan pipa gas 22 Nopember 2006


Pabrik yang tenggelam


Tonggak sebuah RW sebuah Desa Keluarahan Siring


Luapan-luapan kecil disekitarnya


Ketinggian Lumpur


Sudut Gerbang Kelurahan Siring


Mulai Tenggelam


Tak Tersisa


Tergerus lumpur


Berdiri kokoh diatas lumpur


Halaman lumpur


Rumah lumpur


Bermain di tanggul


Bersepeda pagi


Salah satu solidaritas


Sebuah Usaha Manusia


Dari alam untuk alam


Sebuah Renungan

Banyak cerita
Yang mestinya kau saksikan
Di tanah kering bebatuan

Tubuhku terguncang
Dihempas batu jalanan
Hati tergetar menatap
kering rerumputan

Barangkali di sana
ada jawabnya
Mengapa di tanahku terjadi bencana

Mungkin Tuhan mulai bosan
Melihat tingkah kita
Yang selalu salah dan bangga
dengan dosa-dosa
Atau alam mulai enggan
Bersahabat dengan kita
Coba kita bertanya pada
Rumput yang bergoyang

(Sepenggal lirik lagu “Berita Kepada Kawan” oleh Ebiet G. Ade)

Foto-foto : Peter Wang
Teks : Lendy Widayana
-via Photojurnalist

1 June, 2007

Apakah Tuhan menciptakan kejahatan?

Filed under: Renungan, Serba-serbi, Story — sugeng purwanto @ 10:03 pm

Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada? Apakah kejahatan itu ada? Apakah Tuhan menciptakan kejahatan? Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantanG mahasiswa-mahasiswanya dengan pertanyaan ini, “Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?”.Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, “Betul, Dia yang menciptakan semuanya”.
“Tuhan menciptakan semuanya?” Tanya professor sekali lagi.
“Ya, Pak, semuanya” kata mahasiswa tersebut.Profesor itu menjawab, “Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan.”
Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut. Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos.Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata,
“Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?”“Tentu saja,” jawab si Profesor

Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, “Profesor, apakah dingin itu ada?”

“Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak pernah sakit flu?” Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.

Mahasiswa itu menjawab, “Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada.
Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut.

Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.

Mahasiswa itu melanjutkan, “Profesor, apakah gelap itu ada?”

Profesor itu menjawab, “Tentu saja itu ada.”

Mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi anda salah, Pak. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya.
Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna.
Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut.

Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya.”

Akhirnya mahasiswa itu bertanya, “Profesor, apakah kejahatan itu ada?”

Dengan bimbang professor itu menjawab, “Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara – perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan.”

Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab,

“Sekali lagi Anda salah, Pak. Kajahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan.

Seperti dingin atau gelap, kejahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan.

Tuhan tidak menciptakan kajahatan. Kajahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih sayang Tuhan dihati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya.”

Profesor itu terdiam.

Nama mahasiswa itu adalah Albert Einstein.

Next Page »

Blog at WordPress.com.